Dalam investasi saham, ada berbagai macam istilah yang biasa digunakan selain untuk trading maupun istilah dalam aksi korporasi perusahaan. Yuk kita bahas satu per satu!

IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan):

IHSG adalah indeks seluruh perusahaan yang terdaftar di Indonesia yang ditunjukkan dengan harga rata-rata keseluruhan perusahan tersebut. Biasa disebut juga dengan istilah JCI (Jakarta Composite Index)

Bullish

Istilah ini menunjukkan kondisi market yang sedang trend naik, di mana disimbolkan dengan banteng (bull) dengan tanduk mengarah ke atas.

Bearish

Bearish merupakan kebalikan dari Bullish yang berarti kondisi market sedang mengalami trend penurunan harga, disimbolkan dengan gambar beruang yang sedang rebah/ tidur.

ARA (Auto Reject Atas)

Istilah ARA ini kerap digunakan para trader saham jika harga suatu saham mengalami kenaikan maksimal dalam 1 hari (25 – 35%). Jika harga saham naik max, maka saham itu biasa dikatakan ARA.

ARB (Auto Reject Bawah)

Kebalikan dari ARA, istilah ARB digunakan jika harga suatu saham mengalami penurunan maximum (7% di masa pandemic ini). Untuk penurunan harga saham normalnya sebesar kenaikan maksimumnya, jika suatu saham maksimum naik 35% maka penurunan maksimum juga 35%, namun di masa pandemic 2020, bursa mengubah aturan ini dan menjadikan penurunan maksimum sebatas 7% saja.

HAKA (Hajar Kanan)

Ketika para trader ingin membeli saham dan langsung dapat barang, mereka biasa mengistilahkannya dengan HAKA. Jadi Haka ini adalah membeli saham di harga offer sehingga trader pasti mendapatkan saham yang diinginkan

HAKI (Hajar Kiri)

Kebalikan dari HAKA, istilah HAKI digunakan jika trader ingin melepas barang secara langsung di market dengan cara menjual barang di harga bid / kiri sehingga barangnya pasti terjual.

Deviden (Bagi Hasil)

Deviden adalah bagi hasil yang diberikan oleh perusahaan kepada pemegang saham atas laba setahun di mana besaran deviden yang dibagikan bergantung dari hasil RUPS perusahaan tersebut. Perusahaan yang sedang merugi tidak membagikan deviden dan perusahaan yang sedang untung juga tidak wajib membagikan deviden. Namun, perusahaan-perusahaan besar kebanyakan membagikan devidennya.

Saham Bluechips

Istilah untuk menyebutkan saham-saham perusahaan yang memiliki kapitalisasi yang besar (biasa di atas 10T) dan memiliki track record kinerja yang sangat bagus dalam jangka waktu lama. Contoh yang termasuk saham bluechips Bank BCA, Bank BRI, Telkom, Astra International, Unilever dan sebagainya.

Saham 2nd liner

Perusahaan-perusahaan yang memiliki kapitalisasi antara 500M – 10T dan biasanya masih dalam tahap perusahaan berkembang. Contoh saham-saham 2nd liner di tahun 2021 ini adalah MEDC, WTON, DSNG,ELSA dan sebagainya.

Saham Gorengan

Saham-saham yang mempunyai kapitalisasi kecil (di bawah 500M) dan biasanya jika harga sahamnya naik tanpa didukung dengan kondisi fundamental perusahaan (sedang merugi, asset minus). Contoh saham gorengan BUMI , BRMS , DEWA , BNBR dan sebagainya.

IPO (Initial Public Offering)

Proses penawaran perdana saham perusahaan ke public, biasa disebut go public. Perusahaan melakukan IPO dengan tujuan mendapatkan dana dari public sehingga mereka bisa mengembangkan usahanya tanpa perlu meminjam uang atau membayar bunga.

Proses IPO sendiri membantu manajemen perusahaan untuk lebih professional karena bursa sendiri mempunyai aturan tata kelola manajemen sebelum perusahaan bisa go public.

Publik bisa membeli saham perusahaan yang IPO dengan cara memesan terlebih dahulu di sekuritas underwriter tempat emiten yang akan IPO didaftarkan.

Stock Split

Aksi korporasi di mana perusahaan mengalikan jumlah saham yang beredar sesuai dengan rasio dan membagi harga saham tersebut sesuai dengan rasionya.

Tujuan stock split supaya harga di market tidak terlalu tinggi sehingga retail bisa masuk.

Contoh perusahaan XYZ harga sahamnya 20.000 / lembar dan dia melakukan stock split 1 : 10

Kalau kita memiliki 1000 lembar saham XYZ maka portfolio kita akan menjadi 10.000 lembar tapi harga saham XYZ akan turun menjadi 2.000 per lembar sahamnya.

Reverse Stock

Aksi korporasi di mana perusahaan membagi jumlah saham yang beredar sesuai dengan rasio dan mengalikan harga saham tersebut sesuai dengan rasionya. Biasanya untuk saham di harga 50 perak.

Tujuan reverse stock supaya saham yang harganya 50 rupiah bisa diperdagangkan lagi di bursa.

Contoh perusahaan XYZ harga sahamnya 50 / lembar dan dia melakukan reverse stock 1 : 10

Kalau kita memiliki 1000 lembar saham XYZ maka portfolio kita akan menjadi 100 lembar tapi harga saham XYZ akan naik menjadi 500 per lembar sahamnya.

Right Issue

Aksi korporasi di mana perusahaan menerbitkan sejumlah saham baru dengan rasio tertentu dan harga tebus tertentu.

Tujuan right issue supaya perusahaan mendapatkan dana segar dari penerbitan saham baru.

Contoh perusahaan XYZ melakukan right issue dengan rasio 1 (new) : 3 (old) dengan harga tebus 800 per lembar.

Kalau kita memiliki 3000 lembar saham XYZ maka kita akan mendapatkan saham Right dari XYZ biasa kode sahamnya XYZ-R sebanyak 1000 lembar di mana saham XYZ-R bisa kita tebus seharga 800 rupiah per lembar sahamnya.

Likuiditas menjadi salah satu faktor yang selalu menjadi pem...

Keuntungan Investasi Saham :Punya bisnis tanpa susah-susah m...

Faktor psikologis sangat berperan dalam kita trading saham. ...

Pada Selasa, 6 April 2021, PT Multipolar Tbk (MLPL) menjual ...

Pria yang dikenal sebagai Warren Buffett Indonesia atau Lo K...

Send Message