Dua emiten rokok raksasa, PT H.M. Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT gudang Garam Tbk. (GGRM) tengah dibayangi tekanan kinerja keuangan serta rekomendasi yang suram pada 2021 ini.

Pada kuartal pertama 2021, H.M. Sampoerna mencatatkan penurunan pendapatan 0.55% year-on-year menjadi Rp23.55T. Sementara itu, pendapatan Gudang Garam justru tumbuh 9.12% secara tahunan dalam 3 bulan pertama 2021, menjadi Rp29.74T.

Kendati arah pergerakan top line keduanya berlawanan, GGRM dan HMSP kompak mengalami kontraksi laba bersih pada kuartal pertama 2021. Bahkan koreksinya lebih dari 20% secara tahunan.

Laba tahun berjalan H.M. Sampoerna turun 22.14% yoy dari Rp3.32T pada kuartal pertama 2020 ke Rp2.58T pada kuartal pertama 2021. Senada, laba bersih GGRM pun turun menjadi Rp1.74T atau anjlok 28.61% yoy dari Rp2.44T.

Untuk net profit margin (NPM), pada kuartal pertama 2021, HMSP mencetak 10.98% dibandingkan GGRM yang hanya mampu 5.87% saja.

Data tersebut menunjukkan bahwa baik laba bersih maupun net profit margin, HMSP mengungguli GGRM.

Pada 2021 ini, pemerintah meninggikan tarif cukai hasil tembakau (CHT). Tarif CHT untuk sigaret kretek mesin (SKM) golongan I, IIA, dan IIB naik 16.9%, 13.8%, dan 15.4%. Untuk tarif CHT sigaret putih mesin (SPM) golongan I, IIA, dan IIB naik menjadi 18.4%, 16.5%, dan 18.1%. Namun tarif sigaret kretek tangan (SKT) tak naik.

Di sisi lain, catatan kinerja dan naiknya CHT tersebut tak menghalangi perusahaan manajemen aset terbesar di dunia, BlackRock, untuk menambahkan kepemilikan sahamnya di HMSP dan GGRM.

Berdasarkan data Bloomberg, BlackRock terus menambah kepemilikan sahamnya sepanjang 2021. Bahkan tercatat jumlah lembar saham bertambah dari 11.90 juta pada akhir kuartal keempat 2020 menjadi 12.29 juta pada akhir kuartal pertama 2021.

Data terkini, per 30 April 2021, BlackRock berhasil memiliki 12.78 juta lembar saham GGRM.

Untuk saham HMSP, per 31 Maret 2021, BlackRock juga menambah jumlah lembar sahamnya, dari 8.44 juta lembar pada kuartal keempat 2020 menjadi 122.66 juta atau sebesar 1352.2% secara kuartalan. Aksi akumulasi BlackRock tersebut seolah bentrok dengan konsensus analis Bloomberg yang merekomendasikan jual dibanding beli.

Andrianto Saputra, analis Sinarmas Sekuritas, mengatakan bahwa pendapatan HMSP yang menurun dipicu penurunan volume penjualan sebesar 2.7% yoy menjadi 19.9M batang. Walaupun rerata harga jual (average selling price/ASP) justru naik 3.1% yoy menjadi Rp1184 per batang. Dengan margin laba bruto bruto naik 21.4% akibat kenaikan ASP dan kenaikan penerapan tarif CHT yang belum diterapkan sepenuhnya.

Gross profit margin (GPM) yang cukup tinggi tersebut berisiko turun sejalan dengan kenaikan pungutan cukai rokok. Pada 2021, HMSP diproyeksikan mampu membukukan laba bruto sebesar Rp20.53T atau GPM sebesar 18.9% dari proyeksi pendapatan Rp107.72T. Sementara itu laba bersih diprediksi mencapai Rp7.83T, turun 8.7% yoy atau NPM sebesar 8.2 persen.

Adrianto menyampaikan bahwa biaya operasional HMSP direvisi turun seiring efisiensi operasional yang berjalan baik lewat penghematan beban gaji. Pengumuman dividen yang memiliki dividend payout ratio (DPR) 100 persen juga akan menjadi sentimen jangka pendek.

Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Muhammad Fariz, menilai kontraksi GPM yang dicatatkan oleh GGRM terjadi akibat kenaikan tarif cukai yang tak diimbangi kenaikan harga jual yang memadai.

Pada 2021 ini, GGRM diprediksi mampu membukukan pendapatan Rp122.86T dan laba bersih Rp6.36T atau NPM 5.2 persen.

Fariz merekomendasikan GGRM untuk hold dengan target harga Rp 40000 per saham. Andrianto merekomendasikan untuk saham HMSP netral dengan target harga Rp 1300.

Rekomendasi tersebut seiring kebijakan pemerintah yang tidak mendukung, kompetisi pasar yang ketat di pasar yang menurun, penurunan perilaku merokok, serta risiko pangsa pasar yang menciut.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Christine Natasya merevisi estimasi laba operasional HMSP naik seiring pengetatan belanja operasional pada kuartal pertama 2021. Sehingga laba operasional HMSP diperkirakan mencapai Rp9.98T dan laba bersih mencapai R8.59T.

Christine merekomendasikan untuk hold HMSP dengan target harga baru Rp1390 dengan faktor kunci upside berupa kenaikan volume penjualan dan dividen yang lebih tinggi dari ekspektasi.

Untuk GGRM, margin pada 2021 akan menurun akibat perseroan yang belum mampu menyesuaikan harga jual dengan kenaikan tarif cukai.

Pada 2021, pendapatan dan laba bersih GGRM direvisi menjadi Rp120.75T dan Rp6.27T. Sehingga saham GGRM direkomendasikan tahan dengan target harga baru sebesar Rp39000.

Sepanjang tahun ini, saham HMSP dan GGRM akan terus terkoreksi.



Sumber: market.bisnis.com

PT Ladangbaja Murni sedang melakukan penawaran umum saham pe...

Permasalahan unrealized loss membuat BPJS Ketenagakerjaan me...

Pada awal tahun 2021 ini, tren investasi sedang digandrungi ...

Sesuatu yang bisa dilakukan untuk membuat kondisi keuangan s...

Istilah Cryptocurrency semakin menjadi perbincangan pasca me...

Send Message