Lippo Group (MLPL) dan Edtech Ruangguru dalam Prospek Unicorn

Lippo Group (MLPL) dan Edtech Ruangguru dalam Prospek Unicorn

Jumat, 28 Mei 2021
Pada Selasa (25/05/21), PT Multipolar Tbk. (MLPL), emiten yang dikelola Group Lippo, menghelat paparan publik insidentil untuk meluruskan sejumlah kabar terkait investasi di startup pendidikan teknologi (edtech) Ruangguru.

Pihak MLPL menjelaskan bahwa investasi di Ruangguru tidak sebesar yang diberitakan media massa. Chief Business Development and Investor Relation Officer MLPL, Agus Arismunandar, pun membantah investasi hingga 700 M yang dirumorkan.

Agus memaparkan bahwa perseroan memiliki kepemilikan saham di Ruangguru dengan nilai investasi awal sebesar Rp 21 M dan belum direalisasikan.

MLPL pun belum memiliki rencana untuk berkolaborasi atau melakukan manuver tertentu di Ruangguru. Terutama dengan porsi saham yang hanya 3.38 persen, perseroan hanya melihat kepemilikan di Ruangguru sebatas investasi saja dan belum ada rencana spesifik terhadap perusahaan edukasi tersebut.

Di sisi lain, Multipolar juga pernah melakukan investasi di startup lain, seperti Ovo dan Klinikpintar. Serta beberapa platform lain namun belum dipublikasikan karena masih dalam tahap inkubasi.

Dengan valuasi yang ditaksir CrunchBase menyentuh US$ 830 juta atau setara Rp 11.85 T, Ruangguru tengah berada di ambang gelar unicorn.

Unicorn merupakan label untuk startup bervaluasi di atas US$ 1 M. Sejauh ini, terdapat sembilan unicorn yang teridentifikasi publik di Indonesia, yaitu Gojek, Tokopedia, Traveloka, OVO, JD.ID, Bukalapak, SiCepat, J&T Express, dan Tiket.com.

Sementara itu, beberapa kandidat unicorn yang ada saat ini yaitu Halodoc, TaniHub, Cermati, dan masih banyak lagi. Dengan nilai valuasi yang lebih unggul, ekspektasi pasar terhadap Ruangguru pun lebih tinggi.

Terlebih berbagai riset yang terbit awal tahun ini memprediksikan prospek edtech adalah salah satu yang paling cerah dibandingkan segmen lain yang digeluti banyak perusahaan rintisan berbasis teknologi.

Pada riset berjudul Edtech in Indonesia: Ready for Take Off?, yang terbit Mei 2020, Bank Dunia menyebutkan bahwa perusahaan edtech perlu melalui banyak rintangan untuk sukses. Termasuk daya beli dan kemampuan ekonomi rata-rata masyarakat Indonesia yang masih rendah.

Dengan perkiraan kasar, Bank Dunia pun memprediksikan startup edtech Indonesia, seperti Ruangguru dan Zenius belum berada di posisi untung. Adapun minimnya inovasi menyebabkan perusahaan edtech hanya menitikberatkan produk-produk untuk segmen pelajar dan mahasiswa.

Menurut Bank Dunia, perusahaan edtech perlu meluncurkan produk untuk orang dewasa, khususnya di lingkup ilmu vokasi dan teknik untuk bisa berkembang. Segmen pasar tersebut dinilai cenderung menjanjikan, jika dilihat dari rapor perusahaan edtech di negara-negara lain.

Meski demikian, terlepas dari berbagai kekurangan, banyak konglomerat asing yang menilai segmen edtech di Indonesia masih menjanjikan untuk investasi.

Hingga bulan kelima 2021, Ruangguru tak hanya mendapat suntikan modal Grup Lippo, namun juga dari Tiger Global Management sebesar US$ 55 juta atau setara Rp 801 M. Termasuk sokongan beberapa pihak seperti GGV Capital dan investor lama Ruangguru, seperti East Ventures, Venturra Capital, hingga Venture Management.

Co-founder Ruangguru, Belva Devara, sempat berujar bahwa dana hasil injeksi tersebut sebagian akan digunakan untuk ekspansi di Vietnam dan Thailand, lewat peluncuran StartDee. Ekspansi tersebut dimaksudkan untuk mempelajari perbedaan sistem pendidikan di Indonesia dengan kedua negara tetangga.

Ruangguru juga mengenalkan Roboguru, pemecah pekerjaan rumah (PR) bertenaga Artificial Intelligence (AI) untuk memfasilitasi siswa dalam memahami latihan soal yang sulit. Sebagai harapan tambahan jaringan bisnis.

Seiring peningkatan aktivitas belajar di rumah, Ruangguru mengklaim telah melayani lebih dari 22 juta pengguna di seluruh negara, pada 2020 silam.

Pada perusahaan startup, opsi untuk mencari keuntungan dari adalah jika mendulang untung dan membagi dividen secara proporsional kepada para pemegang saham. Selain itu, jika startup berhasil melantai di bursa, maka investor dapat memperoleh keuntungan dari Initial Public Offering (IPO). Juga, jika saham startup bisa dijual ke investor lain dengan harga tinggi, maka investor atau perusahaan modal ventura bisa mendapat untung.

Namun, dengan menimbang berbagai riset pada sektor edtech di Indonesia yang belum untung, agaknya para investor Ruangguru belum merasakan untung hingga kini.



Sumber: market.bisnis.com

PT Ladangbaja Murni sedang melakukan penawaran umum saham pe...

Permasalahan unrealized loss membuat BPJS Ketenagakerjaan me...

Update IHSG 11 Juni 2021 turun sebesar 0,2% ditutup pada lev...

Update IHSG 14 Juni 2021 turun sebesar 0,25% ditutup pada le...

Pada awal tahun 2021 ini, tren investasi sedang digandrungi ...

Send Message