Rencana Obligasi Wajib Konversi Kimia Farma (KAEF)

Rencana Obligasi Wajib Konversi Kimia Farma (KAEF)

Rabu, 14 Jul 2021
Rencana BUMN farmasi, PT Kimia Farma Tbk. (KAEF), untuk melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue dinilai menjadi langkah strategis yang menguntungkan perusahaan dan investor. Aksi tersebut menjadi bagian dari penawaran obligasi wajib konversi (OWK).

OWK dinilai berpotensi membuat KAEF memperbesar jumlah saham beredar atau free float. Saat ini, publik memegang 9.97 persen saham KAEF.

Direktur Keuangan Kimia Farma, Lina Sari, menyatakan bahwa KAEF menerbitkan OWK agar investor memiliki investment horizon yang lebih panjang sehingga diharapkan saat dilakukan konversi, harga konversi akan lebih optimal.

Dampak yang diperoleh KAEF berupa struktur leverage perseroan yang lebih bagus, sehingga diharapkan selain penurunan leverage sekaligus penurunan beban bunga.

Hal tersebut karena pemegang OWK yang tidak langsung mengkonversi obligasi menjadi saham sehingga membuat perseroan tidak terbebani kewajiban membayar bunga obligasi secara berkala. Salah satu syarat OWK adalah kupon bunga yang rendah atau tak ada kupan sama sekali.

Besaran dana rights issue yang diincar KAEF mencapai Rp 6 T, dana maksimal yang dapat diraup.

Bio Farma sebagai pemegang saham pengendali belum memberikan komitmen untuk mengambil rights issue OWK. Sehingga Bio Farma siap terdilusi jika tak mengambil jatah HMETD-nya. Namun demikian, jika Bio Farma tak mengambil HMETD pun akan tetap menjadi pemegang saham mayoritas, yaitu saat ini mencapai 90 persen.

Jika induk usaha farmasi BUMN tersebut tak melaksanakan rights issue OWK maka persentase kepemilikan sahamnya akan terdilusi 33.35 % menjadi 56.65%.

Jika OWK dikonversi sebanyak-banyak 2,779,397,000 saham seri B dengan nilai nominal Rp 100 per saham dan ditawarkan melalui mekanisme PUT I.

KAEF akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 27 Juli 2021 untuk mendapatkan persetujuan pemegang saham.

Dana yang dihimpun dalam rights issue tersebut akan digunakan untuk memenuhi pembayaran pinjaman yang jatuh tempo dan modal kerja serta pengembangan usaha dalam rangka transformasi digital.

Pada Agustus 2020, KAEF meluncurkan aplikasi Kimia Farma Mobile yang memungkinkan pelanggan untuk memperoleh pelayanan kesehatan lewat internet.

Di internal, KAEF berencana melakukan digitalisasi agar industri farmasi dapat menghemat biaya operasional. Terutama proses dari hulu ke hilir, dari pabrik, distribusi, dan ritel farmasi yang akan diharapkan mampu terhubung dalam sistem teknologi informasi.

Saat ini KAEF telah memiliki beberapa pabrik yang memproduksi bahan baku obat, obat jadi, obat herbal, kina, yodium, serta produk turunannya, kosmetik, dan minyak nabati.

Segmen manufaktur dijalankan oleh entitas induk dan entitas anak serta didukung oleh riset dan pengembangan, distribusi dan perdagangan, pemasaran, ritel farmasi, laboratorium klinik dan klinik kesehatan.

Secara umum, produk yang dihasilkan KAEF terbagi menjadi enam lini produksi, yaitu etial, obat bebas, generik, narkotika, lisensi, dan bahan baku.



Sumber: market.bisnis.com

Perusahaan BUMN farmasi PT Kimia Farma Tbk. berencana menamb...

Penjualan vaksin Covid-19 untuk perseorangan tidak memberika...

Saat ini MNC Group tengah giat mengembangkan ekosistem terin...

Perusahaan properti, PT PP Properti Tbk. sudah membayar sebe...

Telkom Indonesia (TLKM) memiliki rencana untuk investasi bah...

Send Message