PT Mahaka Media Kejar Setoran di Bisnis Media

PT Mahaka Media Kejar Setoran di Bisnis Media

Kamis, 22 Jul 2021

Harga saham sebagian besar perusahaan media bisa saja melempem sejak awal tahun. Tetapi, hal itu sepertinya tidak berlaku untuk PT Mahaka Media Tbk.

Banderol saham perusahaan media yang kepemilikannya didominasi perusahaan milik Menteri BUMN, Erick Thohir yaitu PT Beyond Media itu meluncur ke posisi Rp 366 per lembar pada perdaganan Senin kemarin.

Dalam waktu sehari, saham PT Mahaka Media ini mengalami kenaikan sebanyak 13,66%. Di sisi lain, jika ditarik ke posisi awal tahun, mahar untuk setiap lembar saham PT Mahaka Media sudah melesat sebanyak 375,5% dari posisi awal Rp 80 per saham.

Apabila sepanjang kuartal I/2021, lonjakan harga PT Mahaka Media banyak dipicu ekspansi anak usahanya yaitu PT Mahaka Radio Tbk, maka pada paruh kedua tahun kerbau logam ini saham PT Mahaka Media dipacu oleh rencana rights issue perseroan.

Senin (19/7/2021), mengacu paparan direksi PT Mahaka Media dalam keterbuakaan informasi, rencananya perseroan akan menambah sebanyak 1,2 miliar lembar saham dengan harga nominal sebesar Rp 100 per lembar. Artinya, dana yang dapat diamankan PT Mahaka Media dari rights issue itu dapat mencapai sebesar Rp 120 miliar jika harga pelaksanaan sama dengan harga nominal.

Dalam keterangan itu tertulis bahwa perseroan berencana menggunakan seluruh dana bersih untuk modal kerja perseroan dan anak-anak perusahaan, serta investasi di sektor teknologi digital melalui pengembangan usaha anak perusahaan dan investasi baru, pengembangan aplikasi, dan juga pembelian hardware.

Belum jelas detail aliran dana akan mengarah ke mana saja. Perseroan juga belum melempar dokumen prospektus, namun menjanjikan bahwa rights issue akan dieksekusi dalam tenggat maksimal 12 bulan sejak Rapat Umum Pemegang Saham. Ada juga RUPS PT Mahaka Media dijadwalkan berlangsung pada penghujung Agustus 2021.

Manajemen memaparkan bahwa apabila sebagian atau seluruh transaksi digunakan untuk transaksi material, transaksi afiliasi, dan atau transaksi yang mengandung benturan kepentingan menurut peraturan yang berlaku, perseroan juga akan mematuhi aturan yang berlaku.

Kendati realisasinya masih akan memakan waktu, investor seolah tidak mengenal kata sabar dan langsung memburu saham PT Mahaka Media sejak rencana aksi korporasi itu tersiar. Sepanjang Rabu (21/7/2021) saja, transaksi saham PT Mahaka Media sudah menyentuh nilai Rp 105,7 miliar.

Sejak awal Juli atau sepanjang bulan berjalan, nilai transaksi saham perseroan sudah menyentuh Rp 309,2 miliar. Angka ini didominasi Mirae Asset Sekuritas dengan transaksi beli sebesar Rp 77,6 miliar dan transaksi jual sebesar Rp 81,2 miliar.

Ada juga net value, akumulasi banyak dilakukan investor melalui Trimegah Sekuritas dengan total transaksi net sebesar Rp 7,5 miliar, disusul PT Yuanta Sekuritas sebesar Rp 5,1 miliar, dan UBS Sekuritas Indonesia sebesar Rp 5,1 miliar.

Secara teknikal, William Hartanto selaku analis Panalis Sekuritas memproyeksi harga saham PT Mahaka Media masih dapat menanjak seiring tingginya animo investor publik.

Rabu (21/7/2021) kepada Bisnis, William menuturkan bahwa PT Mahaka Media secara teknikal sedang strong uptrend sejak mengalami breakout pada resistance sebelumnya di Rp 262 per saham.

Saat ini, pergerakan saham PT Mahaka Media sedang menguji resistance baru di Rp 400 dengan adanya peningkatan volume dan indikasi daya beli yang besar.

Walaupun cukup prospektif untuk jangka pendek, William mengingatkan bahwa risiko untuk investor yang ingin melakukan pembelian saham PT Mahaka Media juga relatif tinggi. Terutama, seiring akumulasi kenaikan harga yang signifikan dalam beberapa hari terakhir.

William menambahkan karena risikonya tinggi, maka ia menyarankan buy ketika sudah terjadi koreksi di harga saham PT Mahaka Media. Tepatnya, di area Rp 350 hingga Rp 374 dengan target harga Rp 400 hingga Rp 450 per saham jika bisa breakout kembali. Stop loss ia sarankan di area di bawah Rp 300 per saham.

Risiko tinggi terhadap saham PT Mahaka Media sepertinya juga masuk akal jika melihat kinerja perusahaan.

Hingga kini, PT Mahaka Media memang belum merilis laporan keuangan untuk periode akhir tahun lalu maupun kuartal I/2021. Tetapi, apabila berkaca ke rapor sepanjang 9 bulan pertama 2020, perusahaan sempat mengalami kemerosotan kinerja yang cukup signifikan.

Hingga September 2020, pengelola radio Jak FM dan Gen FM tersebut hanya mampu mengais pendapatan bersih sebesar Rp 107,96 triliun. Catatan itu anjlok sebanyak 47,11% dari periode sama tahun sebelumnya yang mencapai sebesar Rp 204,13 miliar, serta hanya setara 49,27% total pendapatan sepanjang 2019.

Kerugian perusahaan yang mencapai Rp 19,6 miliar juga membengkak sebanyak 290,57% dari posisi Rp 290,57 miliar secara tahunan. Meski begitu, jika dibandingkan rapor akhir tahun 2019, ketika perseroan merugi sebesar Rp 32,54 miliar, catatan itu masih lebih baik.

Nilai aset dan ekuitas PT Mahaka Media juga sempat menurun per akhir kuartal III/2020. Meski begitu, penurunan signifikan yang dipicu pelemahan nilai investasi wajar anak usaha itu kemungkinan sudah dipulihkan, seiring membaiknya harga saham anak usaha perusahaan, yaitu MARI, pada awal 2021 ini.

Secara langkah bisnis, PT Mahaka Media bukan tidak mencoba beradaptasi.

Jika dirunut mundur, seiring terus menurunnya pemasukan perusahaan dari segmen bisnis sirkulasi, buku, iklan koran, event organizer, media luar ruang hingga penyiaran, perseroan berupaya memunculkan beberapa segmen usaha baru seperti media buying serta usaha sewa peralatan.

Meski begitu, lini-lini bisnis yang semestinya dapat mengurangi risiko itu justru ikut mengalami penurunan kinerja. Puncaknya, tekanan pendapatan perusahaan terasa dalam 2-3 tahun terakhir, seiring resmi gulung tikarnya bisnis di segmen media luar ruang dan majalah.

NOICE

Pandemi Covid-19, yang sepanjang tahun lalu membatasi perhelatan acara, juga menambah derita PT Mahaka Media di segmen bisnis event organizer dan sewa peralatan.

Situasi tersebut yang kemudian membuat perusahaan gencar menggembar-gemborkan langkah digitalisasi mereka. Melalui alih bisnis dengan fokus ke lini media berorientasi digital, manajemen meyakini keberlangsungan bisnis masih dapat terselamatkan.

Sejauh ini, salah satu langkah yang sudah dijajaki perseroan adalah membesarkan Noice, platform radio streaming yang dikelola PT Mahaka Media melalui MARI selaku anak usahanya.

Pada awal 2021, Alpha JWC Venture dan Kinesys Group sudah mengucurkan dana investasi untuk platform yang sempat digadang-gadangkan dapat bersaing dengan Spotify dan Google Podcast itu. Kedua perusahaan ini konon menyuntik modal sekitar Rp 1,7 triliun yang membuat kepemilikan MARI terhadap Noice terdilusi menjadi 75% saja.

Pada April 2021 ini, Northstar Pacific asal Singapura juga menyusul dengan suntikan dana tambahan. Meskipun tidak diumumkan secara resmi, rumor yang beredar menyebutkan bahwa investasi Northstar kembali membuat kepemilikan MARI terdilusi menjadi 61%. Tetapi, hingga kini pihak Noice belum mengumumkan investasi ini.

Terakhir, pada penghujung Mei 2021, Noice kembali disebut-sebut mendapatkan suntikan investasi lain dari Kenangan Fund. Kenangan Fund merupakan perusahaan investasi yang berdiri di bawah naungan bisnis kafe Kopi Kenangan.

Belum ada keterangan spesifik mengenai berapa besar modal yang disuntik. Tetapi, pasca investasi ini, kedua pihak langsung mematangkan sejumlah kolaborasi.

Dalam keterangan resmi, Edward Tirtanata selaku co-founder Kenangan Fund memaparkan bahwa ia antusias menyambut kolaborasi ini. Menurutnya, Noice adalah produk lokal yang memiliki potensi besar dan menjanjinkan.

Usaha coba-coba lini bisnis digital baru juga berusaha dijajaki PT Mahaka Media melalui pendirian sebuah bisnis patungan bernama PT Khazanah Alwahda Kreatif. Perusahaan ini didirikan pada awal Maret 2021, melalui kerja sama PT Mahaka Media dengan dua perusahaan.

Keduanya adalah PT Trinugraha Thohir dan PT Kreasi Karya Bangsa, yang notabenenya merupakan entitas anak PT Bali Bintang Sejahtera Tbk.

Dalam paparan publiknya, Adrian Syarkawie selaku Direktur Utama PT Mahaka Media mengatakan bahwa Khazanah Alwahda Kreatif akan fokus pada bisnis aplikasi komunitas digital. Untuk tahap awal, perusahaan baru itu akan menyerap modal sebesar Rp 800 juta pada 2021 ini.

Belum jelas bagaimana realisasinya, namun pihak PT Mahaka Media menjabarkan bahwa komunitas digital itu akan mewadahi interaksi antara penikmat bisnis hiburan Grup Mahaka.

Akhir Maret 2021 dalam paparan publik virtual, Adrian menuturkan bahwa dari komunitas itu, satu hal yang menjadi target pasar utama adalah komunitas muslim. Ini sesuai area komunitas Republika juga yang didominasi muslim.

Bisnis Grup Mahaka memang cukup luas. Selain inisiatif baru seperti Noice dan pemain lama seperti Republika di bisnis media, entitas ini juga mengelola stasiun televisi Jak TV, berbagai rumah produksi, portal berita, hingga stasiun radio konvensional.

Itu belum termasuk bisnis kecil-kecilan lain seperti program pencarian bakat Liga Mahasiswa, segmen penerbitan buku, hingga bisnis pengelolaan tiket Raja Karcis.

Dengan adanya tambahan modal via rights issue dalam beberapa bulan ke depan, terbuka lebar kemungkinan bisnis-bisnis eksisting itu juga akan dikembangkan dalam bentuk lebih modern. Terlebih dalam keterbukaan informasinya, manajemen secara spesifik mengatakan dana akan diprioritaskan untuk keperluan investasi teknologi dan digital.

Apakah penambahan modal dan rencana-rencana pengembangan bisnis itu dapat membalikkan tren kinerja minor perusahaan dalam beberapa tahun terakhir?


Sumber: market.bisnis.com

Perusahaan investasi milik Grup MNC, PT MNC Investama Tbk. m...

Langkah konsorsium Saratoga Capital dan Northstar Pacific Pa...

PT Chandra Asri Petrochemical Tbk mendapatkan fasilitas kred...

Di tahun 2021 ini, PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (A...

Pada Jumat (9/4/2021) PT Bank CIMB Niaga Tbk telah menggelar...

Send Message