SPAC, Solusi Bangun Pabrik Baterai Mobil Listrik

SPAC, Solusi Bangun Pabrik Baterai Mobil Listrik

Senin, 15 Mar 2021
Melansir cnbcindonesia.com opini Yusuf Mansur, SPAC (Special Purposes Acquisition Company) atau Perusahaan Cek Kosong (Blank Check Company) saat ini sedang menjadi primadona Pasar Modal di Amerika dan Eropa. Hampir 80% transaksi saham IPO didominasi oleh saham-saham SPAC.

SPAC membantu industri-industri yang berbasis teknologi guna mengembangkan usahanya seperti Mobil Listrik, baik untuk industri penunjang seperti pabrik baterai, jaringan pengisian listrik untuk mobil listrik SPKLU atau SPBKLU, healthcare berbasis teknologi maupun pengembangan-pengembangan teknologi inovasi lainnya.

Kita dapat memanfaatkan SPAC jika Indonesia ingin mengembangkan pabrik baterai, atau membangun industri mobil listrik nasional. Namun, jika aturannya belum ada di Bursa Efek Indonesia atau OJK dikarenakan syarat perusahaan IPO di BEI harus memiliki usaha dan penghasilan maka bisa dicoba IPO SPAC di Amerika Serikat baik di Nasdag AS.

Apa itu SPAC?

SPAC merupakan perusahaan yang dibuat dan listing di Bursa Saham dengan tujuan untuk akuisisi perusahaan yang sudah beroperasi dan memerlukan pengembangan terhadap usaha tersebut. Saham-saham berbasis SPAC adalah Virgin Galactic, Airbnb, Dragon Growth dan masih banyak lagi. SPAC sederhananya dapat didefinisikan sebagai perusahaan yang didirikan oleh investor dengan tujuan mengumpulkan uang melalui IPO untuk mengakuisisi perusahaan lain. Contohnya, Diamond Eagle Acquisition Corp didirikan pada tahun 2019 dan dikenal sebagai SPAC pada Desember.

Kemudian perusahaan tersebut mengumumkan merger dengan DraftKings dan platform teknologi perjudian SBTech. DraftKings mulai diperdagangkan sebagai perusahaan publik ketika kesepakatan ditutup pada bulan April. Jadi SPAC tidak memiliki operasi komersial jika tidak membuat produk dan tidak menjual apa pun. Faktanya, aset SPAC biasanya adalah uang yang dikumpulkan dalam IPO nya sendiri. SPAC biasanya disponsori oleh tim investor institusional, profesional Wall Street dari dunia ekuitas swasta (hedge fund). Bahkan CEO terkenal seperti Richard Branson dan sesama miliarder Tilman Fertitta telah mengikuti tren dan membentuk SPAC mereka sendiri.

SPAC memang belum memiliki usaha yang jelas karena SPAC nantinya digunakan untuk mengakuisisi perusahaan yang sedang beroperasi dan berkembang. Apabila dalam kurun watu 2 tahun SPAC tidak dapat mencapai target akuisisi, maka dana hasil IPO tersebut dikembalikan kepada sponsor dan para investor. Aturan-aturan tersebut belum tersedia di BEI. Semoga pihak BEI maupun OJK dapat mempertimbangkan SPAC dapat listing BEI.

Perencanaan listing ke Nasdag

Sebagai ilustrasi, jika kita ingin membangun industri baterai untuk kebutuhan produsen mobil listrik seperti Tesla, Hyundai, Fickers EV, BMW dan lain-lain. Kemudian kita bentuk contoh Batavia Lithium Batery Capital sebagai SPAC dengan listing di Nasdag. Sebagai sponsor BLBC terdiri dari SWF, Dana Pensiun dan pengusaha-pengusaha Indonesia.

Setelah mencatatkan saham di Nasdag, BLBC ditargetkan akuisisi pabrik baterai di Amerika, Korea atau negara lain yang sudah memiliki teknologi baterai mobil listrik. BLBC akan melakukan Right Issues untuk akuisisi pabrik baterai tersebut dan menggalang dana untuk pembangunan pabrik baterai mobil listrik di Indonesia. Satu hal yang perlu diketahui, sebagai perusahaan yang berdomisili di AS, akan jauh lebih mudah untuk mendapatkan dana untuk akuisisi perusahaan dengan nilai transaksi yang cukup besar. Selain rating AS menurut Standart & Poor AA+ dan Moody’s Aaaa sudah cukup menjamin keberhasilan Right Issues BLBC.

Tidak hanya akses dana cukup besar, keuntungan lainnya adalah kita mendapatkan pabrik baterai dengan teknologinya sekaligus. Jika hal ini dapat dilaksanakan kita akan menjadi investor di bidang industri mobil listrik. Lalu, kita tidak tergantung dari pabrikan produsen baterai luar negeri untuk membangun pabrik Indonesia. Tapi kita sendiri yang menentukannya dengan teknologi yang sudah tersedia.

Apabila LGChem bisa kita akuisisi, kenapa tidak? Masayoshi Son dengan Softbank memiliki Gojek dan Tokopedia di waktu bersamaan melalui transaksi SPAC serta berencana melakukan merger atas 2 unicorn kebanggan kita. Kenapa kita tidak mencontoh Softbank?

Yusuf Mansur yakin kemampuan kita sangat mumpuni. Apalagi pemerintah sangat mendukung sekali untuk perkembangan industri mobil listrik dan prasarana pendukung lainnya. Hal ini dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru yang berbasis teknologi dan kita dapat di sejajarkan dengan negara AS, Korea, Eropa maupun China. Kita tidak perlu menunggu Tesla untuk datang dan membangun pabrik di Indonesia. Tapi kita dapat berinisiatif untuk membeli pabrik baterai dan membangun pabriknya di Indonesia lewat SPAC.


Sumber: www.cnbcindonesia.com (Opini Yusuf Mansur)

Pada 24 Juni 2021 Indomobil Multi Jasa melakukan pengalihan ...

Anak usaha PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), PT PGAS Solut...

Di tengah pandemi Covid-19, PT Indonesia Kendaraan terminal ...

Menteri Energi dan Infrastruktur Suhail Al-Mazrouei menyampa...

Finance Director BFI Finance mengatakan bahwa penyaluran pem...

Send Message