Reksadana dapat menjadi salah satu alternatif produk investasi karena kemudahannya dalam transaksi dan begitu banyak jenis produknya.

Pengertian dari reksadana sendiri adalah produk investasi di mana investor menyerahkan sejumlah dana untuk membeli suatu produk yang dikelola oleh manajer investasi.

Reksadana cocok untuk investor yang tidak punya waktu banyak untuk menganalisa produk-produk investasi, karena sudah ada manajer investasi yang akan mengatur semua alokasi uangnya.

Jika dalam saham kita harus menganalisa terlebih dahulu saham-saham apa saja yang layak kita beli, dalam reksadana ini kita mempercayakan sepenuhnya analisa tersebut kepada MI (Manajer Investasi).

Perusahaan yang menerbitkan produk reksadana adalah perusahaan asset management, di mana MI (Manajer Investasi) akan bekerja di bawah asset management sendiri.

Bagaimana cara kita membeli reksadana?

Kita dapat membeli produk-produk reksadana melalui berbagai channel penjualan antara lain melalui bank, sekuritas, asset management sendiri maupun platform-platform online yang sudah mendapatkan izin menjual reksadana.

Biasanya kita hanya perlu membuka account reksadana dengan cara mendaftar dan menyerahkan data seperti KTP , NPWP maupun foto buku tabungan saja.

Sesudah kita mempunyai account reksadana, kita bisa membeli reksadana yang kita inginkan.

Reksadana sendiri terdiri dari berbagai macam jenis, yaitu:

1. Reksadana Pasar Uang (RDPU)

Biasa disebut juga dengan Reksadana Money Market, di mana isi dari reksadana ini 100% ada di pasar uang seperti deposito, obligasi jangka pendek (di bawah 1 tahun) maupun cash.

Reksadana pasar uang cocok untuk mereka yang tidak mau ada resiko dalam investasinya, dapat digunakan sebagai pengganti dari rekening tabungan yang biasanya bunganya kecil.

Return yang didapat dari RDPU ini berkisar 3-7% setahun

Jenis reksadana RDPU memiliki tingkat resiko yang paling rendah dibandingkan reksadana yang lainnya.

2. Reksadana Saham

Reksadana Saham biasa disebut juga Equity Fund, di mana isi dari reksadana ini 80% minimal ada di saham. Karena isinya kebanyakan di saham, maka reksadana saham ini nilainya bisa turun (merugi) kalau harga saham-saham yang ada di portfolio reksadana saham ini menurun.

Jenis reksadana ini cocok untuk mereka yang berinvestasi jangka waktu panjang dan tidak mau repot-repot menganalisa saham-saham perusahaan.

Karena potensi kenaikan yang tinggi, reksadana ini memiliki tingkat resiko yang tinggi pula (high risk high return).

3. Reksadana Campuran

Jenis reksadana ini biasa disebut juga dengan Managed Fund, di mana isi dari reksadana ini 80% ada di pasar uang , obligasi (surat hutang) maupun saham.

Reksadana ini memiliki tingkat fleksibilitas yang tinggi untuk MI (Manajer Investasi) sebagai pengelola portfolio.

Cocok untuk investor yang memiliki tujuan investasi jangka panjang, namun tidak berani menerima resiko yang terlalu besar.

Tingkat resiko berbanding potensi keuntungannya adalah sedang.

4. Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadana ini biasa disebut sebagai fixed income fund, di mana isi dari reksadana ini 80% ada di obligasi (surat hutang) jangka panjang.

Karena isi dari reksadana ini adalah obligasi, tentu yang membeli jenis reksadana ini adalah investor-investor yang sudah sering bermain di obligasi.

Tingkat resikonya sedang dan produk ini sangat bergantung pada obligasi apa yang ada di portfolio fixed income fund ini.

Sebagian besar orang cenderung untuk membeli obligasinya langsung daripada membeli obligasi yang dibungkus dalam reksadana pendapatan tetap.
Dalam reksadana sendiri juga terdapat berbagai biaya-biaya yang harus kita perhitungkan, berikut jenis biaya-biaya dalam reksadana:

1. Subscription Fee

Subscription fee adalah biaya yang dibebankan ketika investor melakukan pembelian (subscription) atas suatu reksadana (besarnya berkisar antara 0-3%).

2. Redemption Fee

Redemption fee adalah biaya yang dibebankan ketika investor melakukan penjualan (redemption) atas reksadana yang dimiliknya (besarnya berkisar antara 0-3%)

3. Switching Fee

Switching fee adalah biaya yang dibebankan ketika investor melakukan pengalihan produk dari 1 reksadana ke reksadana lainnya (besarnya berkisar 0-0,5%)

4. Management Fee

Management fee adalah biaya untuk pengelolaan manajemen di mana besarnya sekitar 1-3,5% selama setahun.
Besarnya biaya-biaya yang dibebankan ke investor biasa bergantung dari jenis reksadana apa yang ditransaksikan, kebijakan perusahaan (bank / sekuritas / platform) dan nominal transaksinya.

Dalam reksadana sendiri, ketika pertama kali diluncurkan memiliki nilai NAB (Nilai Aktiva Bersih) sebesar 1000. Setiap hari bursa akan ada pergerakan harga NAB dari reksadananya yang akan diupdate biasanya di sore hari sesudah tutup sesi market saham.

Jika kita membeli sebanyak 1 juta rupiah suatu reksadana yang memiliki NAB sebesar 2000, maka kita akan mendapatkan sebanyak 500 unit. Satuan yang digunakan dalam reksadana dinamakan unit (seperti satuan lembar dalam saham).

Kita juga bisa membaca keterangan- keterangan dari reksadana yang tertuang dalam prospectus reksadana yang biasanya diupdate oleh manajer investasi setiap bulannya. Dalam prospectus sendiri akan menceritakan beberapa data seperti grafik perkembangan NAB reksadana, top 5 isi alokasi portfolio reksadananya, history price reksadana dan segala macam info yang berkaitan dengan reksadana tersebut.

Permasalahan unrealized loss membuat BPJS Ketenagakerjaan me...

Pada awal tahun 2021 ini, tren investasi sedang digandrungi ...

Sesuatu yang bisa dilakukan untuk membuat kondisi keuangan s...

Istilah Cryptocurrency semakin menjadi perbincangan pasca me...

Ketika berniat untuk memulai trading crypto, pastikan Anda u...

Send Message