Buy what you know, know what you buy. Itu adalah pepatah populer dalam dunia investasi di mana kita harus membeli apa yang benar-benar kita ketahui dan mengetahui apa yang kita beli. Saham menjadi salah satu investasi yang digemari di semua kalangan mulai dari milenial, professional hingga pensiunan. Tahun 2020 di kala pandemic menjadi kenaikan tertinggi investor saham di Indonesia yang naik sebanyak 50% menjadi 3,8jt investor.

Sayangnya, fenomena kenaikan investor saham di Indonesia tidak diimbangi dengan pengetahuan tentang investasi saham itu sendiri. Yuk, kita akan membahas apa saja keuntungan jika kita berinvestasi di saham dan hal-hal apa saja yang harus kita perhatikan sebelum membeli saham.

Inilah Keuntungan Berinvestasi Saham:

1. Punya bisnis tanpa susah-susah mengelola manajemen (sudah ada manajemen dari perusahaan yang mengelola perusahaan)

Teman-teman pebisnis pasti sudah merasakan bagaimana susahnya menjalankan sebuah bisnis / perusahaan dimulai dari bagaimana kita mengurus perizinan, mengatur karyawan, membuat system perusahaan, mengembangkan omset, mengurus perpajakan hingga berurusan dengan hutang / pinjaman bank.

Dengan memiliki saham suatu perusahaan, kita tidak perlu memikirkan itu semua karena sudah ada manajemen yang mengurus hal-hal tersebut. Kita hanya perlu membeli dan mengontrol kinerja dari perusahaan tersebut melalui laporan keuangan yang diterbitkan setiap 3 bulan sekali. Simple sekali, bukan?

2. Pajak keuntungan saham sudah final (pajak saham dari 0,1% atas transaksi jual saham, berapapun keuntungan sudah tidak perlu bayar pajak lagi)

Salah satu momok bagi pebisnis adalah pajak penghasilan, semakin besar omset / laba yang diraih maka semakin besar pula pajak yang wajib dibayarkan perusahaan. Dalam investasi saham kita tidak perlu repot-repot memikirkan masalah perpajakan karena berapapun keuntungan yang kita dapatkan di pasar saham, semua sudah nett dan final karena setiap transaksi jual kita sudah dipotong pajak 0,1% sehingga kita tidak perlu membayar apa-apa lagi.

3. Mendapatkan deviden (bagi hasil)

Ketika perusahaan yang kita beli mempunyai performa yang baik, mencetak laba setiap tahun dan membagikan deviden, maka kita sebagai pemegang saham tersebut berhak juga mendapatkan deviden walaupun kita tidak mengurus sedikitpun dalam operasional perusahaan. Jika kita mengincar deviden perusahaan, maka kita harus memilih perusahaan yang mempunyai track record laba yang terus bertumbuh dan pembagian deviden (deviden payout ratio) yang besar. Sektor komoditas seperti batubara memberikan deviden yang cukup besar dan untuk sektor bank, saham Bank Jatim (BJTM) merupakan salah satu saham bank yang rajin membagikan deviden cukup besar.

4. Saham bisa diwariskan untuk anak cucu

Jangan takut jika kita membeli saham karena kepemilikan kita sudah tercatat secara resmi oleh negara melalui KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia). Saham sendiri bisa diwariskan ketika pemilik saham meninggal dunia dengan cara menyertakan bukti-bukti pendukung seperti akta kematian, surat waris, kartu keluarga untuk syarat pengurusan waris.

5. Modal untuk investasi relative kecil (100rb rupiah sudah bisa)

Pasar saham menjadi investasi yang digandrungi di semua kalangan juga karena fleksibilitas nominal investasi yang relative kecil. Untuk membuka account di sekuritas biasanya hanya membutuhkan minimal saldo sebesar Rp 100.000,- saja. Harga saham pun terendah dari Rp 50,- di mana berarti kita bisa membeli minimal 1 lot saham (100 lembar) seharga Rp 5.000,- . Tentu hal ini membuat tidak ada alasan lagi orang untuk tidak bisa berinvestasi saham, berbeda dengan investasi property yang membutuhkan modal hingga ratusan juta rupiah.
Sesudah kita mengetahui apa saja keuntungan dalam investasi saham, tentu kita juga harus mengetahui resiko dan apa tujuan dari investasi kita, berikut 2 hal penting sebelum kita mulai investasi saham:

1. Mengetahui Profil Resiko

Profil resiko pada umumnya dibagi menjadi 3 tipe, konservatif, moderat dan agresif. Profil resiko konservatif berarti investor tidak berani menerima kerugian dan lebih mengutamakan keamanan dibandingkan hasil investasi. Pada umumnya orang yang memiliki profir resiko konservatif suka menaruh uang nya di produk seperti deposito bank.

Profil resiko moderat berarti investor berani menerima kerugian atas investasinya namun kerugian yang berani ditanggung tidak terlalu besar, investor tipe ini suka menaruh investasi dalam bentuk obligasi (surat hutang negara).

Profil resiko agresif berarti investor berani menerima kerugian yang besar dengan harapan meraih hasil investasi yang besar pula. Tipe investor agresif tidak suka menaruh uangnya dalam bentuk deposito karena bunganya yang rendah. Saham yang dipilih pun lebih suka yang tipenya saham-saham gorengan non bluechips.

Dalam investasi saham, tipe konservatif cenderung membeli saham-saham bluechips seperti Bank BCA, Bank BRI, Telkom, Astra Internasional dan perusahaan-perusahaan besar lainnya. Jangka waktunya juga biasa cukup panjang karena saham yang dipilih berdasarkan fundamental.

Investor moderat cenderung untuk mempunyai portfolio campuran antara saham bluechips dengan saham-saham 2nd liner.

Investor agresif biasanya menaruh portfolio hampir 100% di saham-saham 2nd liner dan cenderung trading jangka pendek. Mereka tidak suka menunggu terlalu lama dan keuntungan yang didapatkan diharapkan juga besar seiring dengan resiko kerugian yang juga besar. High Risk High Return.

Tipe investor yang manakah anda ?

2. Mengetahui Tujuan / Goal Dalam Berinvestasi

Ketika kita tahu goal kita dalam berinvestasi, baru kita bisa tahu produk / saham apa yang menunjang tercapainya goal kita. Misal goal jangka pendek (kurun waktu < 1 tahun) tidak cocok jika kita membeli saham2 yang beresiko tinggi, tapi lebih cocok dimasukkan instrument investasi seperti deposito atau reksadana pasar uang.

Berikut adalah contoh membuat goal dalam berinvestasi :
  • Tujuan investasi : Membeli Rumah Seharga 1M
  • Jangka Waktu : 5 Tahun
  • DP Rumah : 30% (300 juta rupiah)
  • Dana yang disiapkan setiap bulan : 300jt / (5 tahun x 12 bulan ) = 5juta rupiah

Untuk kasus di atas, karena jangka waktu hanya 5 tahun dan memperhitungkan harga rumah yang terkena inflasi, maka investor akan memilih untuk berinvestasi saham setiap bulannya sebesar 5jt yang dibelikan saham-saham dengan resiko moderat, dengan harapan 5 tahun kemudian uang nya dapat bertumbuh minimal mencapai 300jt sehingga cukup digunakan membayar DP rumah tersebut.

Ada beberapa istilah yang perlu Anda ketahui sebelum memulai...

Dalam beberapa pekan terakhir, seorang investor individu ata...

Di tahun 2021 ini, PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (A...

Sepanjang kuartal I 2021, perusahaan ritel PT Matahari Depar...

Update IHSG pada tanggal 21 April 2021 ditutup di bawah leve...

Send Message